Beranda

Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction TERAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction TERAS. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Januari 2012

(Flash Fiction) Sangkaan


Sangkaan

 Oleh : Dee Ann Rose



“Yuhuu... nih diamond ring-nya sama kayak Jeng Afriyani!” seru teman arisanku memamerkan kilau yang melingkari jari manisnya. Persis dengan apa yang kupakai.  

Dasar panasan! Lihat saja, aku akan beli lagi yang lebih luxurious!  Obrolan kamipun menjalar ke segala penjuru. Semua terbahak-bahak memberangus kesunyian khas malam. Aku ikut-ikutan tertawa, mencoba agar tirai kecemasanku tak tersingkap.
***

00.00 WIB
Setelah membaluti diri dengan gaun malam merah maroon,  kulumuri tubuh dengan romantic pink yang semerbak.

“Siapa tahu ini malam terakhir bagi kita, Mas!” gumamku sembari melirik laci, tempatku menggeletakkan sebuah map. Lalu kupeluk selimut bludru dan membaringkan diri senyaman mungkin.

Klik!

Sebuah layar datar segera menyuguhkan sajian audio visualnya. Namun channel yang kupijit kurang tepat. Acaranya kembali mendatangkan kecemasan. Semakin menambah kebimbangan yang menjalariku akhir-akhir ini.

 “Besok KPK akan memeriksa salah satu anggota Banggar DPR, Ega Aditio, terkait proyek properti gedung yang mencapai milyaran rupiah...”

Kata-kata pembawa berita itu terus mendengungkan denyut-denyut menyesakkan. Meski aku berulangkali menarik nafas dan menghembuskannya dengan puas, tetap saja perasaanku tak lega.

 “Mas Ega, keadaan begitu kontras sewaktu Mas masih menjadi aktifis LSM...” Aku membatin,

“Sekarang saja Mas belum pulang... Apa Mas tengah menyusun rencana korupsi? Atau konspirasi sama KPK? Atau jangan-jangan... Mas selingkuh? Ah, pekerjaanmu telah memenggal kebersamaan keluarga kita, Mas. Aku dalam dilema yang begitu sulit!”  gerutuku sendiri, mengundang riak mungil dan hangat dari penjuru mata.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Seketika jantungku memompa darah tak karuan. Bibirku menggigil untuk menyapa lelaki yang begitu aku cintai. Rencananya aku akan langsung saja menyodorkan map di laci. Aku ingin tanda tangannya agar status perceraian bisa kurenggut. Namun, urung. Guratan wajahnya melukiskan rasa lelah yang tak terkira. Aku tak sampai hati.

Segera kudekati dan kubantu dia melonggarkan dasi. Aku ingin memberi kesan yang baik,
“Capek, Mas?”

“Iya.”

“Air hangatnya udah siap, Mas.”

“Iya.”

“Semenjak jadi anggota dewan, kamu telah berubah, Mas!” Aku naik pitam ditanggapi dengan begitu datar. Tapi... Oh, dia hanya tersenyum!

“Dengan uang Mas yang banyak, Mas bisa lakukan apa saja dan lupa sama keluarga!” tambahku.

Mas Ega menoleh,
“Kamupun ikut-ikutan berubah, menjadi penghambur uang...” jawabnya dingin sambil melingkarkan handuk, masuk ke kamar mandi. Mulutku terkunci. Aku membaringkan diri kembali dan terpejam ayam.

Setelah beberapa menit, Mas Ega keluar dan mencium keningku. Tentu aku belum tertidur. Kuintip dia menggelar sajadah. Aku memperhatikannya sampai selesai mengucap salam dan berdoa. Ada bagian yang teramat mengiris dinding hatiku,

“Lindungi keluargaku dari semua fitnah keji ini, Ya Robbii...”
***

(Flash Fiction) Karena Sosok Itu Oleh : Tha Artha


Seisi kelas heboh. Keajaiban pagi ini tampak di bangku tengah kelas XI-4. Dua cewek terpopuler, Sarah dan Sisi, bak disihir Harri Potter. Keduanya mengalami perubahan karakter drastis. Sarah yang begitu feminim, tiba-tiba berambut pendek, acak-acakan, tanpa make-up, juga pelit senyum. Sedangkan Sisi sebaliknya, menjelma bagai seorang Putri. Bedak ditaburkan merata, ditambah blush-on, dan seulas lip gloss pink. Wow! Si kucel buruk rupa telah sirna.

Sisi menyisir rambutnya pelan seraya menebar senyuman maut pada penjuru kelas. Disampingnya, Sarah menekuk wajah dan menenggelamkannya pada buku Fisika. Sisi kemudian menepuk bahu teman sebangkunya itu, memaksa Sarah mendongakkan wajah.

"Apa?"

"Kamu kenapa?"

"Kamu sendiri?"

"Aku kan juga ingin cantik sepertimu. Sekarang aku sudah rajin mandi, loh." Tawa Sisi pecah.

Rupanya dia lupa bagaimana cara tertawa yang benar bagi seorang wanita, seperti yang diajarkan Bunda kemarin. Hampir seminggu ini dia berjuang mengubah diri, tak mau kalah dengan Sarah yang selalu mampu menarik perhatian lawan jenis. Sisi bosan dipandang sebelah mata.
Sarah mendengus sebal. Ditutupnya buku Fisika dengan kasar. Kaki mungilnya lalu melangkah menuju kamar mandi sekolah. Diputarnya keran air, menyamarkan isakan yang membuat air matanya menetes deras. Cukup lama. Hingga bel yang berdetang tiga kali menyadarkannya untuk segera masuk kelas dan memulai tugasnya sebagai pelajar.
***
Sarah menghela nafas lega. Setelah tujuh jam terduduk kaku, akhirnya ketegangan syaraf otaknya dapat juga. Ini semua bel yang kembali berdetang tiga kali. Dikemasinya beberapa alat tulis, dimasukkan dalam ransel, lalu melirik teman sebangkunya yang berseri-seri.

"Pulang bareng, yuk!"

Sisi menggeleng. "Sudah dijemput."

"Oo..." Bibir Sarah membulat. "Pacar ya?"

Pertanyaan itu hanya dijawab tawa. Sisi mengerlingkan matanya.

"Karenanya aku berubah. "

Sarah mencoba tersenyum, gagal. Seulas senyum kecut malah dia tampilkan. Sisi tak ambil pusing. Ia berfikir bahwa Sarah iri pada dirinya yang berhasil menggeser posisinya sebagai gadis tercantik.

"Aku kenalin, mau? Ia sudah di depan pagar sekolah, kok."

Sarah terus terdiam saat tangan Sisi menariknya keluar dari kelas, mereka menuju halaman sekolah. Saat pandangan matanya menangkap sesosok pemuda yang sangat dia kenal, Sarah tertegun. Hingga mereka berdua bertatap muka, ganti pemuda itu yang tertegun. Sarah tak bisa hanya berdiam diri kali ini. Tangannya melayang begitu ringan, menampar keras pipi pemuda yang ternyata kekasih Sisi.

Sisi terhenyak. Menatap Sarah dengan sorot mata penuh kemarahan. Belum sempat mulutnya mengeluarkan omelan, Sarah menyela.

"Ia alasanku menjadi seperti ini. Aku patah hati! Dan hatiku semakin hancur saat tahu alasan dia memutuskan hubungan kami, karena wanita lain yakni kamu!"

(Flash Fiction) Balada Pejalan Kaki Oleh : Muhammad Khalabi



“Hidup tuh misteri kawan, kita gak tau kan kapan kita bakalan dipanggil Tuhan?jadinya gue ngrasa, gak apa-apa donk kalo bikin status minta maaf...” kata pejalan kaki 1 menjelaskan ketika temannya menanyakan perihal status facebooknya kemarin
“lu bener sih...tapi kan kalo beneran kejadian gimana,hayoo?” tanya pejalan kaki 2
“hidup mati kita itu udah ada yang nentuin bro, jadi jangan takut lah. Yang penting lu kudu siap-siap aja nyambut ketentuan itu. Siap gak lu?”
“insya Allah siap....” potong pejalan kaki lain bersamaan

Begitulah mungkin kiranya sepenggal percakapan beberapa anak tanggung tanah tinggi ketika hendak pulang selepas bermain futsal di Monumen Nasional. Sementara tak jauh dari mereka, sebuah keluarga sedang menunggu bis dihalte Tugu Tani.
“Ayah...bisnya lama banget y?” ujar salah seorang anak
“sabar nak, sebentar lagi kita pasti ‘dijemput’ sama bisnya kok” jelas sang ayah
“Iya sayang....tunggu aja dulu, tapi jangan lupa tas ‘bekal’ kita kamu bawa y?” pinta ibunya
“Iya deh...tapi udah ‘pasti’ kan kita bakal ‘pergi’ ya Ma?”
“pasti donk sayang.....tapi kita ‘gak tau’ kapan bisnya ‘dateng’, jadi ‘siap-siap’ aja y...” jelas ibunya

Tak lama berselang, tiba-tiba sebuah mobil xenia hitam dengan kecepatan tinggi menghampiri mereka. Mereka yang terdiam tak berdosa yang sedang menunggu bis tujuannya. Mereka, bocah-bocah tanggung yang ingin pulang selepas main futsal. Tanpa ampun dan peringatan si supir, mobil itu menggila membabat habis para pejalan kaki itu. Dan semua sekejap saja, semua lalu kehilangan nyawa. Sekejap saja pun porak-poranda halte Tugu Tani itu, mayat-mayat bergelimpangan. Darah berceceran, pembatas jalan berubah posisi tak karuan. Tangispun pecah dari mereka yang selamat. Miris melihat mereka ditelevisi. Apalagi sang supir kurang ajar itu seperti yang tidak merasa salah sama sekali. Masyarakat sekitar pasti terkejut dan ikut sedih dengan kejadian itu. Mereka yang ada disana menolong semampunya.

Lalu lintas mendadak ramai,tak lama kalimat-kalimat dan tanda mata belasungkawa menghiasi jalan sekitar disana.Mereka pasti tak akan menyangka bahwa semuanya akan terjadi begitu cepat. Dalam kesiapan, pun ketidaksiapan mereka menyambut ajal. Mereka harus tetap menjalaninya sebagai babak kehidupan mereka di dunia. Dan kita pun pasti, cepat atau lambat akan menyusul mereka. Menyambut ajal, walau siap atau tidak.

Sedikit goresan pena ini adalah wujud perasaanku pada mereka, korban maut Tugu Tani 22 Januari. Selamat jalan manusia-manusia tak berdosa, semoga engkau tabah dan diterima semua amalmu disana. Semoga pelaku segera menemukan hati nuraninya yang hilang bersama lenyapnya efek hisapan sabu yang dia pakai. Dan hukum segera berperan menegakkan keadilan seadil-adilnya.

Jangan takut maut, kawan.

(Flash Fiction) Kami Bukan Teroris (Flash Fiction) Kami Bukan Teroris Oleh: Budi Windekind



                                                                                           
            Dedaunan yang berguguran, dingin yang mulai mencekap dan mentari yang semakin malu-malu menampakkan diri,memberitahukan bahwa inilah musim gugur keempatku dan istriku, di Minnesota, semenjak meninggalkan Indonesia.

            Tinggal di negeri orang, tidaklah mudah. Terlebih di Amerika dan kau seorang muslim. Karena semenjak tragedi 11/09/01, stereotip sebagai teroris, lekat dalam pandangan orang barat terhadap kaum muslim. Aku ingin sekali mengubah stigma itu.

            Dua tahun lalu, saat aku membawa istriku yang akan melahirkan putra pertama kami ke rumah sakit, tak satupun dokter maupun perawat yang segera menolong kami karena mengetahui kami beragama Islam. Sungguh aku muak dengan situasi itu. Aku pun tak ragu untuk berteriak-teriak, tak peduli walau petugas keamanan akan menangkapku. Karena ini mengenai dua nyawa manusia yang kucintai.

Sampai akhirnya seorang dokter senior bersama perawatnya datang menolong kami. Alhamdulillah, putraku, Muhammad Haidar, lahir dengan selamat dan sehat. Begitu pula istriku, ia baik-baik saja.

            Sungguh, aku merasa sangat muak dengan pandangan orang Amerika bahwa Kaum Muslim adalah teroris. Walau sulit, aku ingin mengubah pandangan itu. Aku ingin memberitahukan kepada mereka bahwa Islam adalah agama yang mencintai kedamaian.

Sebuah momen besar bagi Kaum Muslim pun tiba, Idul Adha.

“Insya Allah ini akan jadi awal yang baik”, batinku.

Akupun mengirim undangan kepada beberapa orang tetanggaku, yang bahkan tak mengenalku secara intens. Selain karena sikap individualis mereka yang besar, juga karena stigma, bahwa kami adalah teroris. Aku dan istriku, adalah umat Allah yang cinta kedamaian, seperti yang diajarkan junjungan kami, Muhammad SAW.

            Tepat pukul delapan malam, para tetanggaku datang bersama keluarganya. Ada yang tersenyum, namun banyak juga yang tetap bersikap dingin.

            “Tak masalah”, batinku.

            Kami menjamu mereka dengan makanan khas Idul Adha. Aku ingin menciptakan suasana yang senyaman mungkin bagi mereka.

            Semua tetanggaku menikmati hidangan yang ada. Bahkan, sambal goreng hati buatan istriku ludes. Akupun tak kebagian. Anak-anak kami bermain di salah satu sudut rumah, bergembira bersama.

            “Terima kasih atas kedatangan kalian semua. Sungguh menyenangkan bisa berbagi kebahagiaan bersama kalian”, kataku.

            “Mengapa kalian mengundang kami?”, tanya salah seorang tetanggaku.

            “Agama kami mengajarkan tentang indahnya berbagi kebahagiaan dengan sesama dan kami ingin melakukan itu. Karena sungguh, agama kami adalah agama yang cinta kedamaian. Selama ini, kita berbagi hangatnya mentari yang sama, berbagi bulan yang sama bundarnya. Mengapa kita tak berbagi kebahagiaan dan kedamaian yang sama?”

            Awalnya alis tetanggaku berkerut hingga perlahan-lahan, mereka saling memandang dan tersenyum. Semoga ini adalah awal yang baik. Karena sekali lagi ingin kutegaskan, kami bukan teroris.

(Flash Fiction) Ingin Meraih Cintamu Oleh : Risya Avia




(Flash Fiction)          Ingin Meraih Cintamu
Oleh : Risya Avia


Masa bergulir masa, hari silih berganti. Tiada yang tahu hari ini,esok atau lusa .
Kapan kendati ku akan kembali kepada Mu hanya Engkau yang tahu suratan takdir .
Ku perkenalkan diriku, Aku adalah seorang remaja yang masih terbilang lambat dalam menghadapi suatu dzama. Namaku Risya, iya dapat kalian panggil aku siapapun.Tidak ada yang menyangka aku yang dahulu dengan yang sekarang.
Langkah demi langkah selalu mengikuti jejakku. Andai jejak itu hilang,mungkin sesatlah sudah diriku .
2 tahun lalu.

"ma aku mau pakai kerudung ya "
"tidak usah sayang,nanti kamu lepas lagi helaian kain cantik itu"
"tidak ko ma" Senyumku pada sang mama

Mama yang menentangku seakan membuatku ragu
"iya memang benar,jika aku tidak istiqomah aku bisa kacau lagi"sebutku dalam hati.

   Namun dengan semangat ayahandaku , aku mencoba menutup rambutku dengan kerudung nan cantik walaupun cobaaan terus memanggil bagai bisikan setan .
Saat itu,aku masih dekat dengan seorang lelaki muda yang keluarganya dari kalangan ustadzah dan Polisi .Pemuda itu memang mempunyai kesopanan yang luar biasa padaku . Aku pun tidak pernah disentuhnya sedikitpun.


"Ya Rabb,aku ingin sekali mencintaimu seutuhnya"ujarku dalam hati saat aku telah terbaring diatas kasur.
***

07.00 Wib .

udara kali ini sampai merasuk kulitku, burung berkicau seakan menjadi teman bimbang hatiku .
Doaku yang tadi malam,membuatku berfikir dan berkeinginan menjauh dari laki-laki yang dekat denganku, aku tidak ingin dia menganggapku special lagi, aku tidak ingin dijemputnya dan aku tidak ingin dia mengontakku .
Namun memang sulit mengingat kedekatanku dengannya berjalan 4 tahun lamanya.


"Ya Rabb,Bismillah aku akan mencoba berbicara dengannya" tekadku dalam niat yang suci .
***
Bell pulang sekolah saat itu telah berbunyi
Seperti biasa,aku selalu dijemput pemuda itu yang kebetulan tidak mempunyai kesibukan. Selama perjalanan aku mencoba merangkai kata demi kata agar kata yang ku ucap nanti tidak menusuk hatinya .

Sesampainya dipelataran rumahku.

"hm"
"ada apa"tanyanya dengan heran
"bolehkan aku berbicara"
"iya boleh,tentang apa?adakah hal serius"
"a. .aku tidak ingin lagi diperlakukan spesial olehmu cukuplah kau menganggapku saudaramu (sambil melihatku dengan heran)

“Memang kenapa?
"aku pun tidak tahu kenapa tapi yang jelas hatiku ingin terpaut pada Allah,coba mengerti aku. Jikapun kita berjodoh,kita akan bertemu lagi tentu dalam situasi yang sah".
   Dengan uraianku yang singkat,dia pun mengerti akan keputusan ini.Walau sulit namun aku tetap pada pendirianku.Jujur setelah kejadian ini, aku lebih nyaman dan ingin terpaut pada cinta Allah semata tanpa membagi cinta dengan lelaki yang belum tentu menjadi jodohku kelak. Dengan ditemani Jilbab aku merubah diriku .

(Flash Fiction) Jalan Layang Oleh : Alin You


(Flash fiction) Jalan  Layang
Oleh : Alin You


Jalan layang di tengah kota merupakan hal menakjubkan yang pertama kali kulihat di Jakarta. Jalan layang yang begitu mulus dan bebas hambatan. Aku bebas menjalankan laju kendaraanku tanpa harus peduli pada pejalan kaki yang suka menyeberang seenaknya. Ya, jalan layang tak diperuntukkan untuk mereka–para pejalan kaki itu, apalagi yang menyeberang seenak udelnya. Makanya, aku begitu menikmati segala fasilitas dan kemudahan yang ada di kota ini.

Sungguh menakjubkan kota Jakarta. Pantas banyak orang menggantungkan hidupnya di kota ini. Lihat saja apa yang kuperoleh kini! Rumah di real estate, mobil mentereng, gaji menggiurkan, bukankah itu impian semua orang? Apalagi saat ini aku banyak menangani proyek-proyek besar yang memiliki nilai investasi yang tentunya besar pula. Aku memang pantas mendapatkannya.

Meskipun untuk meraih ini semua harus ada pengorbanan yang kuberikan. Kurangnya waktu kumpulku bersama keluarga, karena waktuku lebih banyak kuhabiskan di lapangan, bergelut dengan proyek-proyek. Dan akibat kesibukanku itu, aku tak menyadari kalau anak-anakku telah beranjak dewasa. Kini, mereka tak segan-segan lagi menggugatku.

“Tumben Ayah makan malam di rumah?” Begitu Indah berkomentar, saat melihatku hadir di tengah-tengah mereka. Suatu kegiatan yang sudah jarang kulakukan.

“Iya nih! Biasanya sibuuukkk… terus dengan proyek-proyeknya,” Galang ikut menimpali. Aku diam, pura-pura sibuk dengan makananku. Sinis terdengar di telingaku kata-kata yang keluar dari mulut sulungku.

Lastri? Mengapa ia membisu dan hanya menatapku dari tempat duduknya. Ia tak berkomentar apapun terhadap protes yang dilayangkan anak-anak. Padahal aku sangat membutuhkannya. Dan bisunya Lastri membuatku tersiksa.

Aku bukannya tak menyadari aksi diam yang dilakukan istriku itu. Aku tahu kalau diamnya Lastri sebagai bentuk protesnya kepadaku. Dan ini pasti gara-gara kemarin.

“Ayah gimana sih? Masa ndak mau datang ke rapat RT? Apa nanti kata mereka terhadap kita?” Lastri masih juga membahas soal itu. Aku gerah mendengarnya.

“Tolong mengerti toh Bu. Ayah bukannya ndak mau datang,” kataku seraya melonggarkan dasi yang seharian ini mencekik leherku. Lastri sendiri sibuk merapikan tas dan sepatuku.

“Terus apa alasan Ayah?”

“Ibu kan tahu sendiri. Ayah sudah capek bekerja seharian di kantor. Jadi, biar saja toh mereka yang mengurus semuanya.”

“Jadi, Ayah mau lepas tangan? Bukankah pembangunan mesjid itu atas usulan Ayah juga? Kok Ayah berubah sih?” Nada suara Lastri mulai meninggi.

“Siapa yang berubah? Ayah ndak paham maksud Ibu?” tanyaku heran.

“Sudahlah. Pokoknya Ibu kecewa sama Ayah. Kenapa sekarang Ayah lebih suka mengurusi proyek daripada bergaul dengan tetangga? Ke mana perginya suamiku yang dulu sangat konsen dan peduli dengan kemaslahatan umat?”

Hei, apa aku tak salah dengar? Batinku menjerit. Namun, belum sempat kutangkis ucapannya, Lastri memilih pergi meninggalkanku dalam kebingungan.

***

Karawang, 24 Januari 2012

Sabtu, 21 Januari 2012

(Flash Fiction) Perihal Tangisan


Perihal Tangisan

Oleh : Tiara Deviana

Sebenarnya perempuan macam apa dia. Kenapa ia begitu berbeda dari kebanyakan perempuan? Bukankah setiap manusia itu diciptakan dengan kelemahan. Tapi  dia?

“Ibu?”

“Ya?”

“Dimana air mata ibu? Kenapa Sinar tidak pernah melihatnya?” aku tak dapat lagi membendung rasa penasaran yang kian membuncah. Aku ingin tahu kenapa aku tidak pernah melihatnya menangis.

(Flash Fiction) Si Penjual Goreng

 Si Penjual Goreng
Oleh: Viona Novelia

Rintik hujan membuatku harus berteduh disebuah pohon jambu yang berbunga. Kututup barang daganganku dengan plastik yang sudah mulai lusuh. Sekitar 10 buah lagi, sudah mulai dingin, goreng pisang itu nampak tak menarik lagi, lemas tak berseri seperti tubuhku yang sangat letih, ku belum sempat makan siang sepulang sekolah tadi, namun ku juga tidak berani memakan goreng pisang layu itu, itu akan membuatku kehilangan sebagian penghasilanku, bayangkan saja dari satu goreng yang terjual aku hanya mendapatkan dua ratus perak, paling banyak aku dapat menghasilkan sepuluh puluh ribu rupiah setiap hari, namun hari ini masih banyak tersisa, hujan deras membuat daganganku tidak terjual.

(Flash Fiction) Saat Kutanya Ketidakadilan Itu Apa


Saat Kutanya Ketidakadilan Itu Apa
Oleh : Muhammad Khalabi

Kulihat nanar pemberitaan semesta disuatu senja, kala yang lain mungkin masih sibuk dengan kemacetan Jakarta. Ada yang menggelitik ruang tanya dalam hatiku, mengapa selalu ketidakadilan?Mengapa selalu yang terpinggirkan, yang selalu menjadi sasaran ego kebinatangan seorang manusia?apalagi mereka seharusnya menjadi teladan ditengah-tengah carut marut zaman yang makin tak terkendali.
Pada ruang itu, dalam relung hatiku sejenak ku kumpulkan serpihan kesempurnaan indera yang diberikan Tuhan untuk ku. Saat kutanya pada hatiku, dengan sedikit kecewa dia mengatakan;
“Rimba waktu yang kian liar pada sedikitnya orang-orang sadar, menginformasikan aku bahwa ada yang hilang dikedalaman bijak manusia masa kini. Karena titik-titik hitam yang tanpa sadar mereka kumpulkan, perlahan menutupi cahaya penglihatan kearifan langkah nafasnya”

(Flash Fiction) Hobi Berakhir Maut-


Hobi Berakhir Maut
Oleh : Nata Salama

“Sebenarnya apa sih salah kita?”
“Tidak ada.”
“Lantas kenapa kita bernasib seperti ini?”
“Itu karena dia ingin melindungi anaknya.”
“Melindungi? Dari apa? Kita tidak mengganggu mereka, kan?”
“Iya.”
“Lalu kenapa?”
“Karena dia merasa khawatir.”
“Khawatir? Dengan kita?”

(Flash Fiction) Putaran Roda Kehidupan


Putaran Roda Kehidupan
Oleh : Tha Artha

Katanya, hidup itu susah. Apalagi bila hidup pas-pasan. Kurang terpenuhinya kebutuhan hidup menyebabkan sering menyesali nyawa yang Tuhan berikan. Tak jarang mengeluh juga sampai hati menuduh Tuhan tidak sayang hambanya.

"Tuhan hanya memihak para jutawan!" seruan itu terdengar lagi manakala disadarinya persedian beras di bilik semakin menipis.

Anaknya yang bertubuh kurus tetapi berperut buncit, mendekati lelaki di hadapanku. Ia merengek minta dibelikan mainan, tapi ayahnya menolak. Dipukulnya pantat putranya hingga menangis kencang. Aku tak tega menatap pemandangan miris tersebut, lalu kurogoh saku, mengeluarkan lembaran lima ribuan. Tangis anak itu berubah menjadi tawa saat menerimanya. Ia lalu berlari ke arah sebuah toko, membeli barang impian.

(Flash Fiction) Angka Keberuntungan


Angka Keberuntungan 
Oleh : Tha Artha

Kania membolak-balik kalender di hadapannya. Matanya menatap jeli setiap angka, lalu melingkari beberapa diantaranya dengan spidol merah.
"Apa yang kamu lakukan?" pertanyaan ibunya membuat gerakan tangannya berhenti.
Seketika dia membalikkan badan, menghadap wanita yang melahirkannya itu. Diambilnya dua piring berisi capcay dan gorengan ayam dari tangan sang ibu.
"Mencari tanggal baik untuk mengirim naskah, Bu," ujarnya seraya meletakkan piring-piring tersebut di atas meja. Ia pun lalu duduk di kursi, bersiap sarapan. "Habis, naskahku sering gagal masuk media sih. Sialnya mengekor, mungkin."

Senin, 16 Januari 2012

(Flash Fiction) Penunggu Mentari

Penunggu Mentari

Ika Pratiwi 

Sinar mentari mulai berbagi kehangatan saat aku kembali pagi ini . Selayang pandang hanya hijau yang penuhi mata.  Tak kutemukan wajah sendu itu lagi. Marahkah ia? 

Ia  yang menatap mentari dengan khusyuknya tiap pagi di atas batu besar ini setiap aku mengamatinya dari dataran tinggi. Siapakah ia? Pemuja Dewi Matahari, Amaterasu Omikami? Ah, ini bukan negeri matahari. Ataukah hanya penghayal yang terobsesi pada sinar mentari? Berjejal tanya hingga tak kusadari jeratan mata indahnya padaku yang mematung di depannya. Tatap penuh tanya itu serasa mengulitiku. Ah, akulah yang harusnya menyabotase tatapan itu untuknya. Untuk kegiatan anehnya.  

(Flash Fiction) Kabar Hilang

Kabar Hilang 
 
Wahyu Wibowo

Jendela tua. Tamanku memandu keluh kesah. Seringkali aku bercerita sendiri di liangnya. Cerita yang pilu akan durja dunia ini. fana cinta remaja. Ah, jika berbicara cinta mual perutku rasanya. Cinta sebatas kata saja. Jarang sekali aku dapatkan cinta yang abadi. Hingga kakek-nenek. Kecuali, di awali ta’aruf jalanMu.

Aku telah terluka. Tabir hatiku disobek berkeping-keping. Wangi tubuh dan ucapku telah sirna bersama dirimu. Sepuluh tahun lalu, virus cintamu kau tepikan padaku. Saat itu, aku tengah galau akan hidup. Kau kuatkan aku. Temani aku. Langkahku kau luruskan. Kataku kau benarkan. Dan mimpiku kau sulam dengan kasih sayang. Aku terpikat. Aku terharu akan haru-biru pengorbananmu.

Minggu, 15 Januari 2012

(Flash Fiction) Tangga Seribu

Tangga Seribu

Oleh : Isha Shourai (Vanisa Desfriani)

Matahari menghangat, mengangkat tubuhnya ke atas bumi. Fey dan Fifi mengenakan kaus dan sepatu sport yang biasa mereka gunakan minggu pagi. Mereka berlari kecil menuju suatu tempat bernama “Tangga Seribu” selain terdapat tangga dengan anaknya yang berjumlah seribu itu, ada irigasi dan tempat pemancingan serta pasar tumpah yang rutin terjadi seminggu sekali.

Fey dan Fifi belari berdampingan menuju tempat tersebut, Fifi menceritakan pada Fey tentang mitos yang terjadi di tempat itu, apalagi bagi seorang gadis yang sudah cukup usia dan belum menikah seperti Fey sekarang. Usia Fey di katakan sudah cukup bahkan seharusnya sudah melewati masa-masa lajang dimana wanita sebayanya sudah menimang seorang bayi.

(Flash Fiction) Telaga Kehidupan

Telaga Kehidupan 

Oleh : Wahyu Wibowo 

Aku adalah gelas kosong yang tak berisi apa-apa. Bersebab kekosongan itu inginku mengisinya perlahan-lahan agar tak semata hampa dengan keberadaan. Bukan? Bukan saja aku yang mengisinya, namun waktu, sekitar dan suara hati akan turut serta mengisinya. Apalah daya jika semua tak ingin memberikan sekuntum senyumnya padaku, sedang aku terus melalui perjalanan dalam kehampaan. 

Dan pasak melintang yang menghadang di raut muka. Dan butiran debu cerca yang menghujam membakar lara. Dan untaian nafsu yang melilit tak berkedip. Dan, entah lagi yang menyelubungi gelas kosong ini. Terpasti dengan semua yang sesakkan hati dan kejatuhan dari rumpun hidup yang kujalani, menjadi pelajaran sendiri untuk mencumut hikmah yang tersembunyi. Pun memperbaiki diri yang sejatinya dambakan semua orang.  

(Flash Fiction) Penulis Hati

Penulis Hati

Arifin Alviean Ifin

Aku ingin mengubah hidupku menjadi manusia yang berguna,bukan untuk diriku sendiri tapi untuk orang-orang yang aku cintai.Menulis dan selalu menulis dalam kisah hidupku,tertuang dalam hati yang selalu kurasakan dalam setiap harinya.

Aku seorang penulis,yang biasa menulis dengan kata-kata yang biasa aku pikirkan dalam imajinsiku saja,tanpa memikirkan dalam hati,seenaknya saja aku membuat cerita dengan toko dan karakter yang aku bangun dalam imajinasiku.